Edit Me...

Edit Me...

Sponsor

“Winne! Tunggu!”
Masih kudengar teriakan Sam memanggil-manggil namaku. Tapi aku tak perduli. Malah semakin kupercepat langkahku meninggalkannya jauh di belakang. Dan ketika sebuah bis yang kebetulan kosong berhenti di dekatku, aku langsung meloncat ke dalmnya. Kali ini aku benar-benar sudah tek perduli padanya. Kesabaranku sudah habis. Aku benci, dan muak padanya! Sam terlalu! Benar-benar terlalu! Tak pernah kusangka sebelumnya kalau dia akan mengecewakanku. Tak pernah kuduga sebelumnya kalau dia akan mempermainkanku. Tapi kini … semuanya benar-benar telah terjadi, dan bukan mimpi! Kubendung air mata yang hampir saja bobol ke luar. Hatiku sakit! Sam bukan saja telah menghancurkan harapanku, tetapi juga telah menyepelekan harga diriku. Sekarang aku benar-benar menyesal. Menyesal kenal dengan dia, menyesal kena rayuannya dan menyesal mau pacaran dengan dia. Pokoknya, saat ini, aku menyesali segala-galanya. Entah mengapa terbayang kembali peristiwa lima bulan yang lalu di kantin bakso Bu Sum. “Kau kenal Sam, Win? Di mana?” tanya Aniek menatapku terheran-heran ketika kuceritakan padanya bahwa aku baru saja berkenalan dengan seseorang cowok ganteng.
“Di perpustakaan. Memang kenapa? Kok menatapku seperti itu seeh, Niek?” sambutku bingung melihat perubahan yang terjadi pada dirinya. “Sam yang jangkung itu kan? Yang ada tahi lalatnya di dagu? Yang senyumnya manis ?” Aniek memberikan informasi. Aku mengangguk-angguk mengiyakan. “Wah, hati-hati kau,Win! Dia playboy. Ceweknya banyak!” Aniek kembali
menatap wajahku lekat-lekat. “Tapi … tampangnya kalem, Niek,” aku mencoba membantah. “Wah, kau jangan menilai orang itu dari tampangnya saja dong!” protesnya sengit. “Penampilan lahiriah itu belum tentu menjamin kebaikan hatinya. Pokoknya Sam itu berbahaya. Siapa saja yang kenal dia, langsung jatuh cinta. Makanya kubilang, hatihati saja. Jangan sampai kena jerat!”
“Kalau begitu, kau juga pernah jatuh cinta dong padanya? Kau kan kenal dia,” sindirku langsung.
Seketika semburat warna merah meronai wajah Aniek. “Dulu sih memang sudah pernah, tapi nggak sampai mendalam,” jawabnya jujur. “Kau kenal Fiska kan?” tanyanya tiba-tiba. Aku mengangguk. “Nah, pengalaman

download cerita

0 comments

Post a Comment

Dunia KOJEK Middle © 2009. design by : Yanku Template | Sponsored by : Tutorial87 / Commentcute / Blogger Templates